Sentra UKM Memiliki Potensi Menjadi Kawasan Wisata

Kementerian Koperasi dan UKM terinspirasi mengembangkan sentra UKM menjadi daerah tujuan wisata, berdasarkan kinerja Koperasi Wonorojo di Magelang, Jawa Tengah. Manajemen koperasi berhasil memasuki berbagai sektor usaha pariwisata untuk meningkatkan pendapatan. Sekadar contoh, koperasi ini mampu mengelola fasilitas penginapan bagi wisatawan yang harus kembali ke Yogyakarta untuk menginap ketika mengunjungi Candi Borobudur. Selain itu, koperasi berhasil menarik para kusir andong yang menjadi bagian daya tarik turis di kawasan Candi Borobudur, dengan menyediakan jasa transportasi yang dikaitkan aktivitas masyarakat setempat.

Sentra UKM yang memproduksi keramik gerabah di Tirto/Kasongan, Yogyakarta mengantongi order ekspor ke berbagai negara, di antaranya Italia. Belanda, Spanyol, Jerman, Australia dan Amerika Serikat. Pembeli dari luar negeri sangat meminati keramik gerabah Yogyakarta, karena memiliki nilai seni yang sulit didapat di negara lain.

Contoh lain, Jawa Barat, sejak tahun 2010 menargetkan pembangunan pusat/sentra industri untuk memperkuat UKM. Kawasan wisata yang tengah dibangun akan diisi produk-produk pakaian. Selain pakaian, produk yang menjadi ikon Jawa Barat adalah stroberi sebagai agrowisata. Jawa Barat juga memiliki ikon unik lain, berupa tahu gejrot khas cirebon, selain tahu sumedang. Keduanya diminati, selain harga cukup ekonomis, juga memiliki citra rasa “menggigit”. Pengunjung dari luar kota merasa wajib mencicipi tahu beraroma mantap ini. Dengan manajemen baik, tahu gejrot dan tahu sumedang bisa disulap menjadi wisata kuliner yang mengasyikkan dan mampu menjadi magnet wisatawan.

Berbagai wisata kuliner yang strategis dikembangkan adalah pisang goreng kremes ala Pontianak, Makasar dengan coto-nya, Solo dengan kuliner nasi liwet, teng-kleng, serabi, sate kere, sate nuntel, gudeg ceker, gempol plered, soto kwali dan masih banyak lagi. Di Yogyakarta, Gudeg Yu Djum selalu diburu wisatawan. Dari belahan utara Sumatera ada nasi pelleng di Sidikalang dan Nasi Tuai di Sibolga Sementara di belahan utara Sulawesi begitu kondang tinutuan (bubur manado) lalu Lampung dengan lempok dan tempoyak. Sementara Surabaya menawarkan aneka santapan sedap seperti tahu thek, tahu campur, lontong balap, lontong cap gomeh, rujak cingur, soto madura, sate kelapa, sayur semanggi, dan sebagainya

Semakin menarik jika di area-area wisata kuliner tersaji live show cooking masakan nusantara Pengunjung akan memperoleh pengalaman luar biasa Selain kuliner, UKM lain yang bisa dikembangkan adalah tekstil, peralatan rumah tangga, kerajinan dan sebagainya.

Menyerap tenaga kerja

UKM mampu menyerap tenaga kerja terbesar. Di Indonesia, UKM menyerap 90 juta tenaga kerja atau sekitar 97% dari total tenaga kerja. Sayang, UKM masih terbelenggu berbagai persoalan. Di antaranya kelemahan manajemen, lemahnya kemauan belajar, kultur bisnis sebagai warisan orangtua, kesulitan akses modal, sulit mendapat tenaga terampil, enggan menggunakan teknologi produksi berorientasi mutu dan tak menguasai sistem distribusi hasil produksi.

Belum lagi kebanyakan pemerintah, keberpihakan dan perhatian serta pembinaan dan keterlibatan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dari aspek teknis teknologi, bahan baku masih menjadi masalah. Problem lain, adalah akses pasar. Sebagai tanggungjawab, pemerintah baik harus melakukan promosi.

Pertumbuhan perekonomian daerah cukup signifikan. Meski Kementerian Koperasi dan UKM di tahun 2009 mencanangkan pembukaan 6 juta unit UKM baru di Indonesia, tak sedikit upaya pemberdayaan UKM belum optimal. Itu terjadi karena masih rendahnya peran berbagai pihak, terlebih pemerintah, dalam membina UKM. Tak heran, kemudian UKM merugi atau gulung tikar akibat sumber daya manusia (SDM) tak handal. Bahkan tak sedikit UKM berhadapan dengan proses hukum akibat tidak mampu mengembalikan bantuan modal.

Itulah menyebabkan UKM dilematis, karena banyak menanggung beban akibat penerapan sistem ekonomi tidak sehat dan kurang pembinaan pemerintah. Muchamad ZA (2009) menggambarkan semakin banyaknya sektor yang sebelumnya menjadi ladang UKM, dikuasai perusahaan asing. Ini tantangan tersendiri bagi UKM.

Menuju usaha mikro kecil profesional, perlu peningkatan kemampuan mengenali lingkungan agar mencari dan menciptakan peluang usaha yang efektif dan prospektif melalui suatu perencanaan bisnis komprehensif dan terpadu (SDM, produksi, keuangan, pemasaran dan organisasi), menciptakan keunggulan dalam persaingan dengan cara menekan biaya produksi, membuat diferensiasi produk dan menemukan relung pasar yang kurang dimanfaatkan pesaing, penguasaan informasi pasar, memilih dan menjalin kerjasama usaha melalui berbagai jalur kemitraan serta peningkatan kualitas SDM melalui pemberdayaan profesionalisme.

Upaya tak kalah penting adalah pendampingan, sehingga masyarakat mengerti, mau dan sadar mengembangkan makanan tradisional. Juga perlu konsep jelas, sederhana dan terarah sehingga lembaga-lembaga di daerah, terutama Bappeda dan DPRD mengetahui pentingnya pengembangan pangan tradisional, sehingga pilihan masyarakat mengembangkan usaha mikro-kecil berbasis sumberdaya pangan lokal berjalan baik.

Tak ada pilihan bagi pemerintah, kecuali membina UKM secara baik. Harus menyusun langkah-langkah cerdas mengembangkan UKM sebagai sektor usaha potensial guna memberdayakan ekonomi masyarakat, yang akhirnya menjadi sarana meraih dan mengembangkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan penanganan tepat, UKM bisa berkembang sebagai sektor usaha yang kuat dan mandiri. Tak hanya itu, kita dapat menggenjot sektor pariwisata

Sumber : Harian Kontan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s