Kinerja KUR Dorong Financial Inclusion

Jakarta-Pemerintah menegaskan telah berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan cerminan kesuksesan Indonesia dalam mendorong financial inclusion atau keuangan inklusi. “Sejak diluncurkan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Oktober 2007, realisasi kumulatif KUR per Juli 2012 telah menembus Rp82,4 triliun,” kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Syarief Hasan di Jakarta, 12/9.

NERACA

Lebih jauh Menkop menambahkan masalah paling sentral dalam penerapan financial inclusion adalah jaminan keberlanjutan (sustainability) program tersebut. “Di banyak negara, program semacam ini mandeg utamanya untuk keuangan mikro, sebab mereka sangat tergantung pada bantuan asing, sumbangan, hibah, dan pendanaan anggaran negara,” tambahnya

Namun, kata Syarifuddin, Indonesia sukses mengembangkan KUR dan menjaga keberlanjutannya. Bahkan KUR menjadi produk incaran perbankan sebab terbukti mampu meningkatkan penetrasi kredit mikro dan juga bisa menjaga profil risiko usaha mikro. “Hal ini karena kita mampu menyusun skim yang tepat dimana kita dapat merumuskan dari sisi sosial dan komersilnya,” ujarnya.

Sampai Juni 2012, bank pelaksana penyalur KUR terdiri atas lima bank umum konvensional, dua bank umum syariah, dan 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Pada bagian lain, Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Choirul Djamhari menambahkan, keberhasilan KUR itu juga tak lepas dari kualitas konsep skema penjaminan. “Dengan adanya penjaminan ini, dari sisi penetrasi KUR menjadi lebih kencang sebab nasabah yang tadinya tidak bankable tapi bisnisnya bagus sekarang boleh dapat kredit. Jadi ini sebenarnya sebuah inovasi dari financial inclusion,” papar Djamhari.

Sedangkan bagi perbankan yang menyalurkan KUR, penetrasi kredit ke sektor mikro semakin aman. Sebab kredit mikro yang bermasalah mendapat penjaminan dari pemerintah. “Yang dikhawatirkan bank itu kan masuk di mikro ini rasio kredit bermasalahnya bisa tinggi. Sekarang itu teratasi,” kata Djamhari lagi.

Selain itu risiko dari kredit mikro sangat rendah tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) KUR nasional berada di level 3,3 % hingga Juli 2012 atau masih jauh dari ketetapan Bank Indonesia sebesar 5 %.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sofyan Basir mengatakan, tingginya penyaluran KUR tak lepas dari kian sehatnya kinerja perbankan nasional. “Ekonomi makro kita bagus dan stabilitas juga bagus, ekspektasi kita tinggi di industri. Sehingga kita juga optimistis untuk ekspansi baik dari sisi kredit maupun jaringan,” kata Sofyan.

Hingga Juni 2012, KUR telah disalurkan kepada kurang lebih 68 juta debitur. Pada 2008, debitur KUR baru mencapai 1,6 juta. Namun hanya dalam empat tahun kemudian terjadi lonjakan sebanyak 5 juta debitur. Penyaluran KUR terbesar berada di Jawa Timur yakni sebesar Rpl2,85 triliun. Sedangkan yang terendah di Bangka Belitung yakni sebesar Rp288,l miliar.

Ditambahkan Sofyan, melihat keberhasilan ini, pemerintah akan mendorong penyaluran KUR naik 50 % dan mentargetkan pada tahun 2012 menjadi Rp 30 triliun.

Distribusi KUR nasional sebagian besar masih ditopang oleh Bank BRI yakni sebesar 60,92 % dari total KUR. Sedangkan untuk tahun 2012 (year to date), realisasi KUR nasional telah mencapai Rp 19,04 triliun atau sebesar 63,48 % dari target penyaluran KUR nasional 2012 sebesar Rp 30triliun.

Sumber : Harian Ekonomi Neraca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s